Nur Arief (Dagadu)
Apa yang Anda ingat ketika disebutkan nama kota Jogja? Banyak dari kita pasti akan menjawab keraton, gudeg, dan… DAGADU. Yang pertama dan kedua memang sejak lama menjadi ikon kota Sultan ini. Mungkin sejak jaman kompeni. Nah, yang terakhir disebutkan tadi memang baru sekitar 15 tahun lahir di kota Gudeg itu, tetapi harus diakui sudah menjadi bagian penting dari kota pelajar ini.
Membicarkan Dagadu tak akan pernah bisa dilepaskan dari sosok A. Nur Arief, sang direktur sekaligus pendirinya. Sebenarnya Mas Arief, begitu dia biasa disapa, tidak sendirian saat memulai bisnis kaos berlabel Dagadu. Bisnis yang awalnya sekadar iseng ini dimulai oleh 25 orang, termasuk Mas Arief. Tapi, seiring perjalanan waktu dan karena berbagai alasan, hanya tersisa 3 orang termasuk Mas Arief yang tersisa.
Tahukah Anda berapa modal awal DAGADU? nol rupiah! mereka hanya bermodalkan ide. “Saat itu kami mempunyai berbagai design kaos lalu kami nekat pergi ke sebuah pembuat kaos dan bilang akan membuat kaos seperti ini, tapi kami tidak punya duit” papar Mas Arief saat menjawab pertanyaan salah satu peserta seminar dalam roadshow Young Entrepreneur Awards (YEA 09) di Kampus Atmajaya Yogyakarta.
“Untungnya si pembuat kaos itu percaya dan memberi kesempatan kepada kami untuk membayarnya setelah laku dijual” lanjutnya.
Ternyata kaos design mereka mendapat sambutan yang luarbiasa dari teman-temannya. Sambutan yang positif ini membuat mereka semakin semangat untuk terus ber-reproduksi. Pendeknya, Dagadu akhirnya mendapatkan tempat di Malioboro Mall. Tempat jualan kaos Dagadu itu diberi nama POSYANDU, Pos Pelayanan Dagadu.
Omset Posyandu terus melambung hingga pada setiap akhir pekan sering terjadi antrian. Untuk memecah antrian tersebut Dagadu akhirnya membuat UGD, Unit Gawat Dagadu. “Selain untuk memecah antrian, UGD dibikin juga untuk alternatif para pencari Dagadu yang malas bermacet ria di Malioboro,” Papar Mas Arief.
Sesuai asosiasi yang timbul dari namanya, UGD hanya dibuka pada setiap kondisi darurat, yaitu setiap akhir pekan dimana biasanya Jl. Malioboro sangat macet. “Bedanya, kalau yang di rumah sakit buka 24 jam, kami hanya buka 12 jam dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam” lanjut Mas Arief.
Melengkapi Posyandu dan UGD, Mas Arief membuka layanan penjualan Dagadu Aseli dengan membuat Pesawat (Pelayanan Lewat Kawat) untuk melayani penjualan via internet atau telepon. Juga Unit Layanan Cepat (ULC) untuk pengantaran kaos Dagadu, dan sebuah Djawatan Pelayanan Dagadu. Hanya di tempat-tempat inilah Dagadu Aseli dapat kita beli.
Bagaimana dengan yang di emperan malioboro atau kios-kios lain di sepanjang dinding keraton? Semua orang juga tahu itu semua Dagadu PALSU! So, jangan sampai salah tempat kalau mau membeli Dagadu yang aseli.
Pembajakan memang menjadi masalah serius yang harus dihadapi oleh Dagadu. “tetapi kami harus tetap arif menghadapi masalah ini,” katanya, “karena sebagian besar pembajak Dagadu menggantungkan periuk nasinya dari jualan Dagadu palsu.”
Namun demikian, bukan tidak mungkin lho Mas Arief akan membiarkan pembajakan ini terus berlanjut, “karena kami menemukan ada juga sebagian kecil yang bukan sekadar untuk nasi tetapi sudah mencari kekayaan,” lanjutnya.
Serius Bermain-main
Dalam roadshow YEA di kampus Atmajaya Jogja, Mas Arief membagi pengalaman bagaimana dia membawa Dagadu tetap eksis bahkan terus berkembang dengan berbagai lini usaha barunya. “Salah satu yang terpenting adalah saya menjalankan bisnis ini karena memang didasari oleh hobi” katanya.
“jadi, kalau ditanya kenapa saya berbisnis ini, jawabannya karena saya menyukainya” ujarnya. Dia mengatakan bahwa hobi adalah kesenangan dan karenanya saat kita menjalankan atau melakukannya yang ada hanyalah perasaan senang. Seperti bermain-main, “dan kami memang serius bermain-main dalam menjalankan bisnis ini”
Mengenai eksistensi Dagadu kedepan, Mas Arief merasa tidak mengkawatirkannya karena bisnis yang dijalankannya bukan jualan kaos, melainkan bisnis kreatif dalam bentuk design dengan media kaos, “maka sepanjang kami tetap menjaga energi kreatifnya, Dagadu akan tetap ada,” tukasnya, “terlebih kami berada dan bercerita tentang sebuah kota yang romantisme dan budayanya tidak akan pernah habis, bahkan terus berkembang”
Jogjakarta, memang never ending Dagadu!
